TAUBAT: PENGERTIAN, HAKIKAT, SYARAT DAN KEUTAMAAN DEFINISI TAUBAT[1] Secara Bahasa, at-Taubah berasal dari kata تَوَبَ yang bermakna kembali. Dia bertaubat, artinya ia kembali dari dosanya (berpaling dan menarik diri dari dosa)[2]. Taubat adalah kembali kepada Allâh dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa lalu melaksanakan semua hak Allâh Azza TauhidRububiyyah. Tauhid rububiyyah merupakan bentuk dari dua kata, yaitu tauhid dan rububiyyah. Tauhid berasal dari bahasa arab yakni dari kata Wahhada - yuwahhidu - tauhiidan yang berarti mengesakan. Menurut istilah, tauhid berarti menyakini bahwa Allah swt., itu esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Rumusan ini tercermin dalam kalimat syahadat PengertianNamimah, Dalilnya, Sebab-Sebabnya, Contohnya dan Akibatnya serta Cara Menghidari perlu disadari bahwa salah satu keadilan Allah adalah diciptakannya manusia dengan berbeda karakter, ada yang diberi naluri yang memang sifatnya penyayang, bahkan ada yang punya sifat yang suka mencelakakan orang lain dengan berbagai macam cara, yang Doaslametan lebih bersifat baik dan komunal akan bermuatan etis, sikap kagum pada kuasa Tuhan, sikap pasrah akan kehendak Tuhan, dan mengarahkan pada laku baik. dilakukan sebagai ungkapan yang ditujukan ke- pada Tuhan. Doa dan dzikir ini dijelaskan sebagai ruhnya ibadah, merupakan bentuk rasa syukur ke- Bagimereka yang menebar fitnah, maka hal itu akan kembali mengenai dirinya. Inilah tanda-tanda terjadinya kiamat". (HR. Abu Hurairah) itulah makna dan dalil dari asmaul husna Al Muqit. Semoga dengan mengamalkannya melalui dzikir, niscaya kita akan mendapatkan manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Inshaa Allah. Assalamualikum Selamat sore saudara2 ku, berbagi itu indah dan mengingatkan kembali sesama muslim itu adalah kebaikan, kali ini saya mencoba mengingatkan kembali apa itu wudhu, dalilnya apa, dan bagaimana caranya, serta apa manfaatnya, semoga bisa membuat kita mengingat kembali bagaimana sunnah berwudhu dan lainya, jika ada salah pengetikan atau apapun, itu semua salah saya, yang benar hanya mili . Arti Astaghfirullahaladzim. Foto UnsplashSebagai Muslim, mengetahui arti astagfirullahaladzim merupakan pengetahuan yang penting. Kalimat astagfirullahaladzim termasuk kalimat istighfar. Biasanya, orang-orang menyederhanakan jadi istighfar sendiri adalah kalimat yang secara khusus ditujukan untuk meminta maaf atau taubat atas kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan karena melanggar larangan Allah penjelasan selengkapnya mengenai astagfirullahaladzim di bawah Itu Astaghfirullahaladzim?Apa Itu Astaghfirullahaladzim. Foto UnsplashKalimat astagfirullahaladzim dalam bahasa Arab ditulis seperti iniArtinya adalah "aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung". Sementara astagfirullah memiliki arti "aku memohon ampun kepada Allah".Muslim dianjurkan untuk senantiasa mengucap kalimat astagfirullahaladzim atau astagfirullah, sebab kalimat istighfar bagian dari doa dan dari buku 8 Kalimat Al-Thayyibah yang ditulis M. Fauzi Rachman, pengucapan kalimat istighfar harus diikuti dengan bertaubat sebagai suatu tindakan nyata. Astagfirullahaladzim tidak hanya dilisankan, meskipun dengan mengucap sudah mendatangkan pahala. Namun, harus diiring dengan tindakan penyesalan dan memperbaiki hubungan dengan Allah Membaca IstigfarKeutamaan Membaca Istigfar. Foto PexelsBerikut beberapa keutamaan membaca astagfirullahaladzim atau kalimat istighfar Rezeki DilancarkanBeristighfar dapat memberikan jalan dan mendatangkan rezeki. Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah "Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." HR. Ahmad dan Al-hakim2. Dihapuskan DosanyaKalimat istighfar dapat menghapuskan dosa seperti dijelaskan dalam hadist berikutArtinya "Wahai hambaku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam. Dan aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya. Maka beristighfarlah kepadaku, pasti aku mengampuni kalian." HR. Muslim3. Terlindung dari AzabKeutamaan yang terakhir adalah dapat melindungi hamba dari azab Allah Swt. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah "Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau Muhammad berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan menghukum mereka, sedang mereka masih memohon ampunan." Al-Anfal 33Kalimat Istighfar selain AstaghfirullahaladzimKalimat Istighfar Selain Astaghfirullahaladzim. Foto PexelsSelain astaghfirullahaladzim, terdapat beberapa kalimat istighfar lainnya yang bisa kamu Bacaan Istigfar Setelah Salat"Astaghfirullah hal'adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih."Artinya "Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya."2. Bacaan Istighfar Penghapus Dosa Besar"Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih."Artinya "Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Maha hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya."3. Bacaan Istighfar Nabi Muhammad Saw Sebelum Wafat"Subhanallahi wabihamdih, astaghfirullaha wa atuubu ilaih."Artinya "Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya."4. Bacaan Sayyidul Istighfar"Allahumma anta Rabbi, La Ilaha illa anta, Khalaqtani wa ana abduka, wa ana ala ahdika wa wa’dika, mas tatha’tu, audzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bi ni’matika wa abu’u laka bi dzanbi, faghfir li, fainnahu la yaghfirudz dzunuba illa anta."Artinya "Ya Allah, Engkaulah pemeliharaku. Tiada sesembahan kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Dan aku berada pada kesepakatan dan perjanjian denganMu, semampuku. Aku berlindung kepada Engkau dari keburukan yang aku perbuat. Aku bertaubat kepada-Mu dengan karunia-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu dengan dosaku. Maka, ampunilah aku karena tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau."Nah, demikianlah penjelasan mengenai kalimat astaghfirullahaladzim. Semoga informasi di atas bermanfaat, ya!Apa keutamaan membaca astaghfirullahaladzim?Apa itu kalimat istighfar?Apa bacaan istighfar setelah solat? Arti dzat Allah. Foto Billion Photos/ShutterstockPada hakikatnya, Allah itu satu ahad, unik, qadim, dan wujud. Allah bukanlah substansi, bukan pula tubuh ataupun oksigen yang terbatas pada ruang. Allah pula yang menjadi tujuan bagi umat Islam untuk memohon pertolongan. Mengutip buku Pengantar Studi Aswaja An-Nahdliyyah susunan Dr. KH. Muchotob Hamzah 2017, Allah memiliki sifat-sifat yang agung seperti Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, dan Maha Melihat. Sifat-sifat Allah itu berbeda dari Huzail, seorang teolog Mu’tazilah, menjelaskan bahwa sifat Allah itu selaras dengan dzat dan esensi-Nya. Menurutnya, arti Allah Maha Mengetahui yaitu Allah tahu tanpa perantara pengetahuan dari siapa pun, karena sejatinya pengetahuan itu berasal dari dirinya Allah berbeda dengan dzat manusia yang merujuk pada tubuh dan raganya. Lantas, apa yang dimaksud dzat Allah? Untuk mengetahuinya, simaklah penjelasannya dalam artikel berikut Dzat Allah Menurut Pandangan UlamaIlustrasi berdzikir memuji dzat Allah. Foto Shutter StockJika dzat makhluk mengarah pada tubuh dan raga, dzat Allah tidak demikian. Sejatinya, Allah bukanlah makhluk ataupun benda. Maka, yang dimaksud dzat Allah adalah hakekat ulama terkemuka Indonesia, Syaikh al-Allamah al-Faqih Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi as-Syafii pernah menuliskan pembahasan tentang dzat Allah ini dalam berbagai karyanya yang beraliran menjelaskan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya. Ini adalah wujud dari sifat “mukhalafatul lil hawadisi” yang artinya Allah berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Sesungguhnya Dia ada tanpa terbatas pada tempat dan kitab ats-Tsimar al-Yaniah, Syaikh al-Allamah menuliskan "Contohnya, mustahil adanya Allah pada suatu arah dari suatu benda, seperti berada di samping kanan benda tersebut, atau di samping kirinya, atau di atasnya, atau di bawahnya, atau di depannya, dan atau di belakangnya. Demikian pula mustahil Allah berada pada arah, seperti arah kanan, arah kiri, arah atas, arah bawah, arah belakang, atau arah depan. Demikian pula mustahil Allah terliputi oleh tempat, atau menyatu di dalam tempat tersebut, seperti keyakinan adanya Allah bertempat di atas arsy."Kemudian, dalam kitab karya beliau yang lainnya berjudul Nur azh- Zhalam, asy-Syaikh Nawawi al-Jawi menuliskan"Segala sesuatu yang terlintas di dalam benakmu dari segala sifat-sifar benda maka jangan sekali-kali engkau berkeyakinan bahwa Allah bersifat walaupun dalam satu segi dari sifat-sifat tersebut. Allah sama sekali tidak bertempat, maka Dia bukan berada di dalam alam dunia ini, juga buka berada di luarnya."Ilustrasi berdoa kepada Allah. Foto ShutterstockGolongan ahlussunah meyakini bahwa di akhirat nanti umat Muslim bisa melihat dzat Allah SWT. Keyakinan ini merupakan wujud iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, dan umat Muslim akan melihatnya dengan sangat jelas bagaikan melihat matahari yang bersih. Tidak ada sedikit pun awan yang akan hal ini, ahlussunnah berbeda pandangan dengan golongan Mu'tazilah. Sebab, golongan Mu’tazilah tidak setuju bahwa wujud Allah itu dapat menerima prinsip filsafat bahwa apa saja yang menempati ruang atau arah haruslah memiliki waktu. Sedangkan sejatinya Allah tidak terikat pada ruang dan yang dimaksud dengan dzat makhluk?Apa kepercayaan golongan mu'tazilah tentang Allah?Apa arti sifat mukhalafatul lil hawaditsi? Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Wahdaniyah Beserta Artinya Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Wahdaniyah Beserta ArtinyaSebarkan iniPosting terkait Wajib bagi Allah Ta’ala mempunyai sifat ”Wahdaniah” di dalam sifat, Dzat dan perbuatan Af’al-Nya. Adapun makna Wahdaniah dalam Dzat adalah bahwa Dzat Allah Ta’ala tidak tersusun dari bagian yang banyak, karena hal itu dapat dikatakan ”Kam muttashil” susunan dari bilangan yang bersambung di dalam Dzat-Nya. Tidak akan ada Dzat yang serupa dengan Dzat Allah Ta’ala atau ”Kam munfashil” susunan dari bilangan yang terpisah di dalam Dzat. Akan tetapi, Esa di dalam Dzat memiliki arti; tidak adanya susunan dari beberapa bagian itu bukti dalil dari sifat mukhalafatu lil hawadisi sebagaimana uraian yang telah lalu. Adapun arti dari sifat Wahdaniah di dalam Dzat adalah tidak adanya banyak sifat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala tidak mempunyai dua sifat, baik sebutan ataupun makna. Baca Juga Qiyamuhu Binafsihi Artinya Jelasnya, bahwa Allah Ta’ala tidak memiliki dua sifat dan seterusnya dari jenis yang satu, seperti dua sifat Qudrat atau dua sifat Ilmu dan sebagainya. Karena tidak terdapatnya bilangan didalam sifat, maka dikatakan ”Kam Muttashil” di dalam sifat-Nya. Dan tidak adanya perkara yang menyamai di dalam sifat, yaitu tidak adanya segala sifat bagi mahluk yang menyerupai pada sifat Allah Ta’ala dan sebaliknya, maka dikatakan ”Kam Munfashil” di dalam sifat-Nya. Sedang makna Wahdaniah di dalam perbuatan af’al adalah, bahwa tidak ada satupun perbuatan mahluk yang sama dengan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, hal tersebut dikatakan ”Kam Muttashil” di dalam perbuatan. Dan apabila dicontohkan dengan berbagai af’al, maka hal itu sangat jelas, Bahkan tidak sah tidak mungkin meniadakan sejumlah perbuatan, karena af’al Allah Ta’ala banyak sekali seperti; menciptakan mahluk, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan lain sebagainya. Dan apabila dicontohkan dengan sekutu Allah Ta’ala, maka sekutu itupun akan tertolak oleh sifat Wahdaniah Allah Ta’ala dalam af ”al-Nya. Jadi, Allah Ta’ala adalah Esa di dalam menjadikan dan menciptakan yang tak pernah ada sebelumnya. Dia yang menciptakan mahluk dan segala perbuatan mereka sekaligus menentukan rezeki dan ajalnya. Ringkasnya, bahwa sifat Wahdaniah yang ada pada Dzat Allah Ta’ala sifat dan af’al yang Esa dapat menolak pada ”Kam” yang lima, yaitu Baca Juga mukhalafatu lil hawaditsi artinya Kam muttashil di dalam Dzat, ialah tersusunnya Allah Ta’ala dari beberapa bagian. Kam munfashil di dalam Dzat, ialah bilangan yang sekiranya terdapat tuhan kedua dan seterusnya. Dua Kam, yakni point 1 dan 2 tertolak oleh sifat tunggal Dzat. Kam muttashil di dalam sifat, ialah bilangan bagi sifat Allah Ta’ala dalam satu jenis, seperti sifat hidrat dan sebagainya. Kam munfashil di dalam sifat, ialah bila selain Allah Ta’ala mempunyai sifat yang menyerupai sifat Allah Ta’ala. Seperti bagi Zaid mempunyai sifat kuasa derat, di mana dengan sifat ini ia bisa mewujudkan atau1 meniadakan sesuatu. Dan sifat-sifat yang lain seperti lradat dan ilmu. Ke dua ”Kam” inipun tertolak oleh sebab tunggalnya Allah Ta’ala di dalam sifat. Kam munfashil dalam perbuatan, ialah apa yang dinisbatkan kepada selain Allah Ta’ala dengan jalan mencari dan memilih atau bekerja dan berusaha. Dan ”Kam” inipun tertolak oleh sifat tunggal Allah Ta’ala di dalam af’al. Adapun lawannya adalah bilangan yang dalil sifat Wabdaniahnya berada di dalam Dzat tidak adanya bilangan yang bertemu dalam Dzat tersebut yaitu dalil sifat Mukhalafatu lil hawadisi yang telah diuraikan di atas. Adapun dalil Wahdaniab di dalam sifat, di mana tidak adanya bilangan yang bertemu dengan sifat tersebut mustahil ditentukan oleh angan-angan maupun ucapan. Sedangkan dalil Wahdaniyah dalam arti tidak adanya yang menyamai Allah Ta’ala di dalam Dzat dan sifat-Nya, ialah apabila keberadaan Allah Ta’ala itu berbilang, niscaya tidak akan pernah ada mahluk. Akan tetapi, tidak adanya mahluk juga batal karena telah terwujud kenyataan keberadaan manusia saat ini. Karenanya, pernyataan yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala itu berbilang adalah batal. Dan apabila berbilangnya Allah Ta’ala batal, maka jelaslah Allah Ta’ala bersifat tunggal. Sudah dapat dipastikan bahwa banyaknya Tuhan akan mengakibatkan hancurnya alam ini tidak mungkin terbentuk. Karena, adakalanya keduanya bersepakat dan adakalanya berselisih. Apabila keduanya bersepakat, maka tidak mungkin keduanya bisa mewujudkan alam ini secara bersamaan dan agar tidak terjadi perpaduan dua reaksi pada satu titik sasaran. Baca Juga Al Muhshii Artinya Dan tidak pula dapat keduanya mewujudkan alam ini dengan cara bergantian, salah satunya lebih dahulu mewujudkan alam, kemudian disusul yang lainnya. Tidak mungkin keduanya bersekutu di dalam mewujudkan alam, dengan cara yang mendapat bagian setengah dan yang lain sebagian sisanya. Dengan diadakannya persekutuan, sudah tampak kelemahan masing-masing. Sebab, ketika salah satunya menggantungkan kekuasaan di dalam mewujudkan sebagian alam, maka akan menutup jalan Tuhan lain di dalam menggantungkan kekuasaannya untuk mewujudkan sebagian alam sisanya Tuhan yang lain pun tidak mampu menentangnya dan hal ini merupakan kelemahan. Inilah yang dinamakan dalil saling tolak-menolak, karena di dalamnya terdapat dua Tuhan yang saling bertentangan dalam melaksanakan satu pekerjaan. Apabila keduanya bertentangan dengan cara salah satunya ingin mewujudkan sesuatu dari alam, sedangkan yang lain tidak menginginkannya, maka tidaklah mungkin dapat tercapai kehendak keduanya. Sebab, hal ini nantinya akan terjadi perpaduan antara dua Tuhan yang saling bertempur dan tidak mungkin keinginan mereka akan samasama terpenuhi, karena sudah jelas kelemahannya. Dan tidak mungkin yang satu dapat mencapai keinginannya, sedang yang lain tidak tercapai. Karena, pasti kelemahan Tuhan yang tidak tercapai maksudnya akan sama dengan yang lain, disebabkan adanya kesamaan di antara keduanya. Maka, dalil semacam ini dinamakan dengan dalil yang saling tarik-menarik, karena keduanya saling merintangi dan saling tentang-menentang. Adapun dalil sifat Wahdaniah di dalam af’al karena tidak adanya “Kam muttashil” di dalamnya tidak adanya persekutuan Tuhan yang lain dalam perbuatan dengan Allah Ta’ala, maka hal ini termasuk pula di dalam uraian yang telah tersebut pada dalil yang saling tolak-menolak. Baca Juga Al Hamid Artinya Sedangkan dalil sifat Wahdaniah di dalam af’al karena tidak adanya ”Kam munfashil” di dalam bahwasanya selain Allah Ta’ala mempunyai kesan pada perbuatan dan semua yang dilakukan oleh dirinya sendiri, maka dapat ditebak, bahwa kesan tersebut adalah memang watak yang dimiliki oleh selain Allah Ta’ala. Sudah barang tentu hal tersebut memberi tidak membutuhkan Allah Ta’ala. Mengapa tidak dibutuhkan, sedangkan Allah Ta’ala selalu dibutuhkan oleh mahluknya? Apabila anda mengira bahwa pada apa yang dapat memberi kesan itu di sebabkan adanya kekuatan yang dijadikan oleh Allah Ta’ala di dalamnya seperti dugaan kebanyakan orang mukmin yang masih awam, maka mereka akan meyakinkan beberapa sebab yang bersifat kebiasaan itu dapat memberi kesan dengan adanya kekuatan yang dijadikan Allah Ta’ala di dalam sebab itu. Apabila Allah Ta’ala mencabutnya, maka sebab-sebab tersebut tidak akan memberi kesan apa-apa. Seperti pemahaman orang awam, bahwasanya makan dapat memberi kesan wujudnya kenyang, minum dapat memberi kesan segar, api dapat memberi kesan terbakar, pisau dapat memberi kesan dalam memotong dengan sebab kekuatan yang dijadikan oleh Allah Ta’ala di dalam semuanya itu, maka prasangka awam ini pun batal juga. Dengan demikian, Allah Ta’ala di dalam mewujudkan perbuatan akan membutuhkan perantara. Akan tetapi, keadaan yang sebenarnya, secara mutlak Allah Ta’ala tidak membutuhkan bantuan kepada siapapun. Namun, orang yang mempunyai keyakinan tersebut tidaklah menjadi kafir. Hanya saja, ia masuk dalam kategori orang yang fasik keluar dan jalan yang haq serta kesalihan. Yang mendekati keyakinan orang awam adalah kaum mu’tazilah. Mereka meyakini bahwa seorang hamba dapat berbuat untuk dirinya apa-apa yang sifatnya ikhtiari, yaitu dengan kekuatan yang dijadikan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Jadi, barangsiapa meyakinkan, bahwa sebab-sebab yang bersifat kebiasaan seperti; api, makanan, minuman, pisau dan lain-lain dapat memberi kesan kepada obyeknya seperti; kebakaran, kenyang, segar, putus, maka ia adalah kafir menurut Ijma’ ulama. Baca Juga Al Waliyy Artinya Atau meyakinkan kalau kesan yang diberikan itu disebabkan adanya kekuatan yang dijadikan Allah Ta’ala pada api, kenyang, segar, potongan dan lain-lain, maka di sini ada dua pendapat. Pendapat yang benar adalah dia tidak menjadi kafir, karena pengakuan mereka bahwa kekuasaan seorang hamba untuk menciptakan pekerjaan ini dari Allah Ta’ala. Hanya saja fasik dan termasuk dalam golongan ahli bid’ah. Yang sama dengan keyakinan tersebut adalah pendapat orangorang Mu’tazilah. Mereka mengatakan, bahwa seorang hamba dapat berkehendak sendiri dengan kekuatan yang dijadikan Allah Ta’ala kepadanya. Barangsiapa meyakini, bahwa yang memberi kesan adalah Allah Ta’ala dan Dia menjadikan sebab akibat yang saling menetapkan menurut akal. Sebagai suatu kepastian, maka begitu timbul sebab timbul pula akibat. Dengan kata lain, setiap ada reaksi pasti ada dampaknya dan yang mempunyai keyakinan seperti itu adalah bodoh. Barangsiapa mempunyai keyakinan, bahwa yang memberi akibat adalah Allah Ta’ala. Hanya saja, antara sebab dan akibat saling menetapkan menurut kebiasaan dari segi tidak adanya kepastian, maka orang yang mempunyai keyakinan seperti ini dinamakan mukmin yang selamat. Jika sekiranya Allah Ta’ala wajib mempunyai sifat Wahdaniah, maka akan mustahil Allah Ta’ala mempunyai sifat banyak lawan dari sifat Esa. Ketahuilah, bahwa pembahasan tentang sifat Wahdaniah adalah menupakan suatu pembahasan yang mulia dan indah. Karena itu, banyak sekali peringatan-peringatan didalam Al-Qu’an yang disini penulis tidak menyebutkannya. Adapun enam sifat yang diawali dari sifat Wujud dinamakan sifat “Nafsiah’, karena sifat-sifat ini tidak menunjukkan makna yang melebihi keadaan dzat. Dan lima sifat sesudahnya dinamakan sifat “Salbiah” karena menunjukkan Nafinya hal-hal yang tidak sesuai dengan Allah Ta’ala. Baca Juga Al Matin Artinya Menurut pendapat yang lebih sahih, sifat salbiab tidak terbatas, karena sifat kurang itupun tidak ada batasnya semuanya dirahasiakan oleh Allah Ta’ala. Dan yang lima tersebut merupakan pokok, karena yang lainnya tidak adanya isteri, anak dan pembantu bagi Allah Ta’ala akan kembali kepada lima sifat tersebut.[1] Sifat Wajib Bagi Allah Pengertian, Arti dan Dalilnya – Pada Kesempatan kali ini akan menuliskan mengenai Pengertian Sifat Wajib bagi Allah. Sebagai Muslim yang Mukmin tentunya wajib memahami Pengertian Sifat tersebut sebagai aqidah. Para Ulama telah menjelaskan, Pengertian sifat wajib bagi Allah terincikan dengan dalilnya. Maka pada lembaran ini kami kami akan terangkan untuk antum pelajari. Untuk lebih lebih jelasnya mengenai sifat-sifat wajib bagi Allah yang disertai dalilnya Allah, maka baca saja sampai selesai penjelasannya di bawah ini; 1. Wujud Ada Sifat Wajib bagi Allah yang pertama adalah wujud ada. Allah SWT itu dzat yang pasti adanya. Kita wajib meyaqini adanya Allah. Adapun dalilnya Sebagaimana dalam As-Sajdah 4 اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ Artinya “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak pula seorang pemberi syafa’at 1190. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” QS. As-Sajdah 4. Pengertian Wujud Allah itu ada dibuktikan dengan berbagai ciptaan-Nya. Contoh; Tidak mungkin ada langit dan bumi jika tidak ada yang menciptakanny. Tidak ada yang isa menciptakan langit dan bumi kecuali hanya Allah. Dan demikia itu adalah salah satu bukti adanya Allah. Oleh karenanya sangat tidak patut bagi manusia yang lemah ini menuhankan kepada yang selain Allah. Kita wajib menyembahNya. Allah berfirman; إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي Artinya “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” QS. Thaha 14 2. Qidam Terdahulu Wajib bagi Allah adalah “Qidam” artinya terdahulu. Wajib bagi kita mengi’tiqadkan dan meyaqini bahwa hanya Allah yang paling awal. Adapun dalilnya Sebagaimana dalam QS. Al-Hadid ayat 3 هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ Artinya “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. Al-Hadid 3 Pengertiannya adalah; Allah adalah sang Pencipta yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Sebagai pencipta, tentunya Allah SWT telah ada lebih dahulu dari apapun yang diciptakannya. Tidak ada pendahulu atau yang lebih dulu dari Allah Ta’ala. 3. Baqa’ Kekal Allah SWT itu Maha kekal. Tidak akan pernah fana, binasa atau berahkir. Tiada akhir bagi Allah SWT. Dia akan tetap ada selamanya. Pengertian Baqa’ Baqa’ itu artinya kekal dan maha kekal sangat tidak mungkin akan binasa. Adapun dalilnya adalah Sebagaimana dalam Ar-rahman 26-27 Allah berfirman; كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ Artinya “Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” QS. Ar-rahman ayat 26 وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ Artinya “Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” QS. Ar-Rahman ayat 27 4. Mukholafatul Lilhawaditsi Berbeda dengan makhluk ciptaanNya Allah SWT sudah pasti berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Pengertiannya; Dialah zat yang Maha Sempurna dan Maha Besar, Maha Agung. Tidak ada sesuatupun yang dapat menandingi-Nya, tak satu pun yang menyerupai keagungan-Nya. Adapun dalilnya ial;ah; Sebagaimana Firman-Nya dalam Al-Ikhlas ayat 4 وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ Artinya “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” QS. Al-Ikhlas 4 5. Qiyamuhu Binafsihi Berdiri sendiri Allah SWT itu berdiri sendiri. Pengertiannya; Allah tidak bergantung kepada apapun, kepada siapa pun dan tidak membutuhkan bantuan siapapun. Dalilnya adalah; وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu dari alam semesta.” QS. Al-Ankabut 6 وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَداً وَلَم يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلَّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيراً “Dan katakanlah segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” QS. Al-Isra 111 6. Wahdaniyah Esa/Tunggal Allah itu Maha Esa, Dia Maha Tunggal. Artinya tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah satu-satunya Tuhan pencipta alam semesta. Adapun Bukti keesaan Allah SWT terletak dalam kalimat syahadat “Laa ilaha Illallah” yang artinya “Tiada Tuhan selain Allah”. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ “Katakanlah Dialah Allah, Yang Maha Esa.” QS. Al-Ikhlas 1 7. Qudrat Berkuasa Allah Ta’ala adalah Maha kuasa atas segala sesuatu. Taka da satupu yang bisa menandingi kekuasaan Allah. Adapun dalilnya adalah firman-Nya; إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.” QS. Al-Baqarah 20 8. Iradat Berkehendak Iradat sifat wajib bagi Allah SWT. Pengertiannya; Allah itu Maha menentukan segala sesuatu. Ketika Allah SWT berkehendak maka jadilah hal itu, maka tidak seorang pun yang mampu menghalangi atau mencegah-Nya. Dalilnya adalh firman-Nya; خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” QS. Hud 107 إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “Jadilah!” maka terjadilah ia.”QS. Yasiin 82 9. Ilmun Mengetahui Maksudnya; Allah Maha mengetahui atas segala sesuatu. Baik yang dzahir maupun yang tersembunyi. Dalilnya ialah Firman Allah; وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” QS. Qaf 16 10. Hayat Hidup Allah SWT Maha Hidup. Artinya; Allah Tidak akan pernah mati, tidak akan binasa, maupun punah. Dia kekal selama-lamanya. Dalilnya ialah Firman-Nya; اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ “Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. Al-Baqarah 255 11. Sama’ Mendengar Allah Maha mendengar, baik yang diucapkan ataupun yang hanya ungkapan di dalam hati. Allah Mengetahui. Pendengaran Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Adapun dalilnya ialah; Sebagaimana firmanNya dalam Al-Quran فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجاً يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ “Dia Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”Asy-syuro 11 وَاللّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. Al-Maidah 76 12. Bashar Melihat Allah Maha melihat segala sesuatu. Arinya; Pengelihatan Allah itu tidak terbatas, Dia maha mengetahui apa yang terjadi di dunia ini. Walaupun hanya sehelai daun yang jatuh. Dalilnya Firman Allah; إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Dan Allah Maha Melihat atas apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-Hujarat 18 13. Kalam Berfirman Allah itu berfirman. Artinya; Dia berbicara yakni berkata-kata secara sempurna tanpa bantuan dari apapun. Terbukti dari adanya firman-Nya dalam kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi. Salah satu Nabi yang pernah berbicara langsung dengan Allah Ta’ala adalah Nabi Musa alaihissalam. Dalilnya adalah yang telah dijelaskan dalam Al-Quran وَلَمَّا جَاء مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ “Dan tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya.” QS. Al-A’raf 143 14. Qadiran Berkuasa Allah itu Maha kuasa atas segala sesuatu. Dalilnya; Sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاء لَهُم مَّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواْ وَلَوْ شَاء اللّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali sinaran itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” QS. Al-Baqarah 20 15. Muridan Berkehendak Allah Maha berkehendak. Artinya; Ia maha Berkehendak atas segala sesuatu. Bila Allah sudah menakdirkan suatu perkara maka tidak ada yang bisa menolak kehendak-Nya. Dalilnya; Dalam Al-Qur’an dijelaskan خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” 107 16. Aliman Mengetahui Allah Maha mengetahui segala sesuatu, baik yang ditampakkan maupun yang disembunyikan. Tidak ada yang bisa menandingi pengetahuan Allah yang Maha Esa. Dalilnya adalah dalil Alimun yaitu; وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” QS. Qaf 16 Dan Firman-Nya; إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ Artinya; Bahwa Sesungguhnya Allah itu Maha mengetahui segala sesuatu. 17. Hayyan Hidup Allah itu Maha hidup. Tidak mungkin bagi Allah Ta’ala untuk binasa. Dia selalu mengawasi hamba-hamba-Nya tidak pernah lengah tidur ataupun tidur. Dalilnya; وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيراً “Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup, yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.” QS. Al-Furqon 58 18. Sami’an Mendengar Allah Maha Pendengar. Tidak ada yang terlewatkan bagi Allah SWT. Dan tidak ada pula yang melampaui pendengaran-Nya. Dalilnya dalil sma’ yaitu; وَاللّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. Al-Maidah 76 19. Bashiran Melihat Allah Maha Melihat. Pengelihatan Allah meliputi segala hal, baik yang diterlihat ataupun yang disembunyikan. Dalilnya dalah dalil Bashar iaitu; إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Dan Allah Maha Melihat atas apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-Hujarat 18 20. Mutakalliman Berfirman atau Berkata-kata Mutakallimin berarti Allah berfirman, sama halnya dengan kalam. Firman Allah SWT terwujud dalam kitab-kitab suci yang diturunkan-Nya lewat para nabi. Firman Allah SWT begitu sempurna dan tidak ada yang menandingi. Dalilnya ialah dalil Kalam iatu; وَلَمَّا جَاء مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ “Dan tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya.” QS. Al-A’raf 143 Setelah mengetahui, memahami, mengimani, mengi’tiqadkan dan meyaqini 20 sifat wajib bagi Allah, maka antum wajib juga mengetahui lawan kata sifata wajib, yakni sifat Mustahil bagi Allah. Antum sebaiknya baca sampai selesai pada link in⇒ Sifat Mustahil Allah Pengertian, Arti dan Keterangannya Demikianlah penjelasan materi tentang; Sifat Wajib Bagi Allah Pengertian, Arti dan Dalilnya – Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan antum. Terimakasih atas kunjungannya. Wallahul-muwaffiq. sumber; dutadakwah Para ulama’ membedakan antara sifat dzat dan sifat perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala. Sifat dzat adalah sifat yang berdiri bersama dzat atau diturunkan dari makna yang berdiri bersama dzat seperti sifat Ilmu mengetahui dan Aalim Maha Mengetahui. Ilmu adalah salah satu sifat dari sifat – sifat dzat, demikian juga dengan Aalim adalah sifat yang diturunkan dari sifat Ilmu. Demikian halnya dengan sifat Qudroh Kuasa dan keberadaan-Nya yang Qaadiran Maha Kuasa, sifat Sama’ Mendengar dan keberadaan-Nya yang Samii’an Maha Mendengar, maka Dzat Allah ta’ala disifati dengan sifat Sama’ Mendengar dan Qudroh Kuasa dan Dia azza wa jalla Qaadirun Maha Kuasa dan Samii’un Maha Mendengar. Adapun sifat perbuatan Allah adalah sifat yang diturunkan dari ma’na di luar dzat, misalnya saja خالق-Khaaliq atau Yang Mencipta, sifat tersebut adalah sifat yang diturunkan dari الخلق-ciptaan. Al-khalqu adalah di luar dzat. Maka ketika kita katakan سمع الله pendengaran Allah, kita paham bahwa makna itu berdiri bersama dzat-Nya Allah azza wa jalla. Bila kita katakan خلق الله ciptaan Allah, kita paham bahwa makna itu di luar dzat Allah. Maka sifat خالق-khaaliq atau Yang Maha Pencipta adalah sifat perbuatan. Demikian pula dengan sifat رازق-raaziq atau Yang Maha Pemberi rezki adalah sifat yang diturunkan dari الرزق-ar-rizq atau rezki dan rizq itu adalah makna yang ada di luar dzat. Bila kita perhatikan juga bahwa الخلق dan الرزق yakni ciptaan dan rezki adalah salah satu dampak dari dampak – dampak sifat Qudroh kuasa dan Qudroh adalah sifat dzat. Wallahu alam bi as-shawab. Rujukan Syaikh Nuh Ali Salman al-Qudhah, Al-Mukhtashar al-Mufid fii Syarh Jauharat at-Tauhid.

pengertian dzat allah dan dalilnya